TAHAPAN BELAJAR GERAK DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES



TUGAS
PEDAGOGI OLAHRAGA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Pedagogi Olahraga








oleh :
Wawan Setiawan
2124100248
kelas 3i


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2013
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji syukur kehadiarat Tuhan Yang maha Esa atas segala limpah rahmat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyusun sebuah makalah Pedagogi Olahraga. Shalawat serta salam semoga di limpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan penuh kesadaran hati akhirnya penulis dapat menyusun  makalah ini tetapi semua berkat motivasi dan bantuan semua pihak, baik langsung maupun tidak langsung dan atas doa-doa mereka yang selalu menyertai penyusun dalam berbagai tugas dan kegiatan
Dalam hal ini penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu penyusun dengan senang hati akan menerima segala masukan dan saran yang bersifat konstruktif untuk lebih mempertajam dan meluaskan pandangan sehingga makalah ini dapat memberi perspektif yang benar dan bermanfaat bagi penulis bagi pembaca umumnya.

                                                                                   Ciamis, 08 Mei 2013


Penyusun


PEMBAHASAN

1.       Tahapan Belajar Gerak (dalam Pendidikan Jasmani)
Ada tiga tahapan belajar yang harus dilalui oleh siswa untuk dapat mencapai tingkat keterampilan yang sempurna (otomatis). Tiga tahapan belajar gerak ini harus dilakukan secara berurutan. Apabila ketiga tahapan belajar gerak ini tidak dilakukan oleh guru pada saat mengajar pendidikan jasmani, maka guru tidak boleh mengharap banyak dari apa yang selama ini mereka lakukan, khususnya untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani yang ideal. Tahapan belajar gerak yang dimaksud adalah: tahap kognitif, tahap asosiatif/fiksasi, tahap otomatis.  Untuk lebih jelasnya dapa diuraikan sebagai berikut:

·         Tahap Kognitif
Pada tahap ini guru setiap akan memulai mengajarkan suatu keterampilan gerak, pertama kali yang harus dilakukan adalah memberikan informasi untuk menanamkan konsep-konsep tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa dengan benar dan baik. Setelah siswa memperoleh informasi tentang apa, mengapa, dan bagaiman cara melakukan aktifitas gerak yang akan dipelajari, diharapkan di dalam benak siswa telah terbentuk motor-plan, yaitu keterampilan intelektual dalam merencanakan cara melakukan keterampilan gerak. Apabila tahap kognitif ini tidak mendapakan perhatian oleh guru dalam proses belajar gerak, maka sulit bagi guru untuk menghasilkan anak yang terampil mempraktekkan aktivitas gerak yang menjadi prasyarat tahap belajar berikutnya.
·         Tahap Asosiatif/Fiksasi
Pada tahap ini siswa mulai mempraktekkan gerak sesuai dengan konsep-konsep yang telah mereka ketahui dan pahami sebelumnya. Tahap ini juga sering disebut sebagai tahap latihan. Pada tahap latihan ini siswa diharapkan mampu mempraktekkan apa yang hendak dikuasai dengan cara mengulang-ulang sesuai dengan karakteristik gerak yang dipelajari. Apakah gerak yang dipelajari itu gerak yang melibatkan otot kasar atau otot halus atau gerak terbuka atau gerak tertutup? Apabila siswa telah melakukan latihan keterampilan dengan benar dan baik, dan dilakukan secara berulang baik di sekolah maupun di luar sekolah, maka pada akhir tahap ini siswa diharap kan telah memiliki keterampilan yang memadai.
·         Tahap Otomatis
Pada tahap ini siswa telah dapat melakukan aktivitas secara terampil, karena siswa telah memasuki tahap gerakan otomatis, artinya, siswa dapat merespon secara cepat dan tepat terhadap apa yang ditugaskan oleh guru untuk dilakukan.Tanda-tanda keterampilan gerak telah memasuki tahapan otomatis adalah bila seorang siswa dapat mengerjakan tugas gerak tanpa berpikir lagi terhadap apa yang akan dan sedang dilakukan dengan hasil yang baik dan benar.

LATIHAN KEKUATAN

 LATIHAN KEKUATAN

DEFINISI , JENIS –JENIS ,KONSEP, METODE, DAN BENTUK LATIHAN
DEFINIS LATIHAN KEKUATAN
—  Kekuatan adalah Kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan /force terhadap suatu tahanan
—  Artinya bahwa untuk melatih mengembangkan kekuatan yaitu dengan latihan tahanan ( resistance excercises) atau dengan latihan beban ekternal
—  Latihan awal kekuatan mengarah pada kekuatan umum  yang mengacu pada kekuatan meksimal

JENIS-JENIS KEKUATAN YANG DIKEMBANGKAN
—  Kekuatan umum yaitu mengacu pada kekuatan seluruh sistim otot
—  Kekuatan spesifik kekuatn yang mengacu pada kekuatan otot yang mengacu padakekuatan otot yang khususdiperlukan oleh CABOR
—  Kekuatn meksimal yaitu kemempuan mengankat suatu beban yang hanya mampu diangkat oleh satu kali angkatan
—  Kekuatn relatif ialah rasio antara kekuatan absolut dengan berat badan . KR=KA/BB

METODE LATIHAN KEKUATAN
—  Metode hypertropy
Tujuanya adalah meningkatkan kekuatan maksimal dengan menambah diameter otot.
—   ciri-ciri:
  a. beban latihan rendah sampai ringan
  b. repetisi banyak
  c. kontraksi otot lambat
—  Metode Neural
 Tujuanya meningkatkan kekuatan maksimal otot  -   meningkatkan/ memperbaiki kerjasama intra muskular
—   ciri-ciri:
 a. beban latihan lebih besar dari 75%
b.repetisi sedikit
c. kontraksi otot cepat 

KONSEP LATIHAN KEKUATAN
—  Melakukan gerakan menarik,mendorong dan mengangkat beban yang bersifat ekternal dengan jumlah repetisi dan set tertentu

BENTUK LATIHAN KEKUATAN
—  Latihan tahanan
—   Dilihat dari tipe dan bentuk kontraksi otot maka kontaksi otot digolongkan ke dalam 3 tipe:
1.Kontraksi isometrik ( static contraction) yaitu kontraksi otot yang ditegangkan tidak mengalami perubahan panjang pendek otot  sehingga tidak akan nampak suatu gerakan yang nyata. Kontraksi statisnya dipertahan selama 6-10 dtik
2. Kontraksi isotonik ( dynamic contraction) yaitu kontraksi otot yang diikuti oleh perubahan memanjang dan memendeknya otot saat berkontraksi atau bekerja
Kontraksi isometrik dapat dibagi dalam 2 macam kontraksi:
— kontraksi konsentrik yaitu kontraksi saat gerakan memendek otot
—  kontraksi eksentrik  yaitu kontraksi otot saat gerakan memanjang
3. kontraksi isokinetik
yaitu kontraksi kombinasi dari gerakan otot saat kontraksi isometrik dan isotonik

METODE LATIHAN KEKUATAN
—  Latihan Beban ( weight training)
bentuk latihan ini merupakan beban ekternal berupa barble atau pada mesin universal
—  Metode orthodox conservatif
latihan kekuatan dengan intensitas 40-60% dengan          repetisi 8-12 repetisi
—  Metode Neural Activation
latihan dengan intensitas kurang dari 75% kontraksi cepat

—  Metode TCCS (TIME CONTRAL SPEED STRENGHT METHOD)
Suatu metode latihan kekuatan untuk mendapatkan kekuatan yang cepat,dengan beban latihan 30-80% tetapi dengan berapa sub set. Maksimal terdiri dari 5 set,rest 3-5”

LATIHAN BEBAN ( WEIHGT TRAINING)
Sistim dalam latihan beban
1. sistem set
Melakukan beberapa repetisi dari suatu bentuk latihan yang disusul dengan istirahat kemudian mengulangi kembali repetisi semula.untuk cabor yang bersifat permainan 8-12 dan yang memiliki kekuatan dominan 6-10 RM
2. sitem superset
 setiap bentuk latihan disusul dengan bentuk latihan otot antagonisnya. Bagi yang sudah berpengalaman
3. sitem split routines
dalam suatu hari melatih otot bagian tertentu kemudian
Hari berikutnya melatih otot bagian yang belum atau upper body,medium body ,under/low body
4. sistim multi poundage
atlet mulai dengan beberapa repetisi dengan beban yang berat, kemudian setelah tampak tanda-tanda lelah atau tidak kuat maka kawanya mengurangi  dengan mencopot beban tersebut. Dan seterusnya.sampai 20 rm
5. Sitem Burn Out
ü  beban pertama-tama hanya mampudiangkat I RM
ü  kemudian beban dikuragi hanya bisa mengankat 2 kali
ü  selanjutnya beban dikurangi kembali sehingga 3Rm
ü  kemudian seterusnya sampai atlit tidak mampu mengankat
6. Sistem Piramid
ü  beban untuk set satu ringan kemudian untuk set-set selanjutnya makin lama makin berat.jumlah set dibatasi sampai 5 set rest 3-5 mnt
contoh :
ü  set 1 beban dengan 9rm misal 20 kg
ü  set 2 beban dengan 7 rm misal 24 kg
ü  set 3 beban  dengan 5 rm misal 27 kg
ü  set 4 beban dengan 3 rm misal 30 kg
ü  set 5 beban dengan 1 rm  misal  33kg
ü  atau dengan variasi 20-8-6-4-2 RM

Sumber: http://cabang-olahraga-olahraga.blogspot.com  










LATIHAN KOORDINASI

A. Koordinasi

Koordinasi. Yaitu kemampuan untuk melakukan gerakan dengan tingkat kesukaran dengan tepat dan dengan efesien dan penuh ketepatan. Seorang atlet dengan koordinasi yang baik tidak hanya mampu melakukan skill dengan baik, tetapi juga dengan tepat dan dapat menyelesaikan suatu tugas latihan.
Selain faktor-faktor fisik yang telah dijelaskan diatas, dalam penguasaan teknik sprint terdapat pula faktor lain yang tidak kalah penting pengaruhnya, yaitu faktor psikologis. Seperti dikatakan Thomson Peter J.L. (1993; 134) psikologi ini adalah sama pentingnya bagi seorang pelatih guna membantu individu-individu (atlet) mengembangkan bagaimana mereka memikirkan kecakapan mental mereka, tetapi juga penting untuk mengembangkan ketangkasan fisik mereka. Ini jelas adalah aspek psikologis dalam melatih namun juga benar bahwa tak ada bagian dari pelatihan/coaching yang tanpa aspek psikologis. Adapun faktor-faktor psikologis tersebut diantaranya yaitu;
a. Ketangkasan mental.
Ketangkasan mental ini sangat berguna/penting bagi para pelatih dan atlet. Ketangkasan mental ini bukan hanya suatu sarana untuk menghindari bencana ataupun pemulihan kembali dari cedera tetapi ketangkasan mental juga memainkan peranan penting dalam mengatur/mengorganisir praktek dan latihan secara efektif sehingga segala sesuatu berjalan dengan benar. Kebanyakan atlet dan pelatih mengakui bahwa perkembangan fisik ssaja tidak menjamin dapat sukses dalam atletik. Seorang atlet harus memiliki kerangka pemikiran yang benar. Persiapan psikologis sama pentingnya dengan latihan kondisioning fissik. Menyiapkan keduanya bersama-sama akan menciptakan prestasi terbaik. Ketangkasan mental ini memerlukan latihan praktek dengan cara yang sama seperti pada skill fisik/jasmaniah. Dengan skill/ketangkasan fisik, beberapa individu akan mengambil/memperoleh ketangkasan mental lebih gampang dibanding dengan orang lain. Dengan praktek, setiap orang dapat meningkatkan ketangkasan mental mereka.
b. Motivasi.
Motivasi merupakan suatu kecendrungan untuk berperilaku secara selektif kesuatu arah tertentu, dan perilaku tersebut akan bertahan sampai sasaran perilaku tersebut dapat dicapai. Pada dasarnya motivassi adalah betapa besarnya keinginan seorang individu untuk meraih/mencapai suatu sasaran. Setiap individu memiliki tujuan/sasaran yang berbeda-beda dalam keterlibatannya dalam dunia atletik. Tujuan/sasaran itu misalnya; mencari kegembiraan, memahirkan skill baru, berlomba dan menang, menambah teman, serta masih banyak lagi tujuan/sasaran lain yang selalu berbeda pada setiap individunya. Dikatakan Thomson Peter J.L. (1993: 135) tekanan dari luar dari pelatih dan orang tua adalah tidak mungkin meningkatkan motivasi pada atlet dalam jangka jauh dan mungkin kenyataannya berkurang. Motivasi sendiri dan pengisiannya adalah yang membuat suatu sukses yang sebenarnya bagi atlet, dan bukan ambisi yang dipaksakan oleh orang lain. Pelatih membantu atlet mengerti apa yang ingin atlet raih, tujuan, dan bagaimana cara meraihnya.
c. Kontrol emosi.
Kontrol emosi adalah suatu kemamapuan seorang atlet dalam mengendalikan perasaan dalam menghadapi uatu ituasi tertentu. Menurut Thomson Peter J.L. (1993;136) kegelisaan berarti berapa banyak seorang individu tergetar atau siap dalam menghadapi suatu situasi tertentu. Rasa gelisa selalu timbul dalam setiap situasi, meskipun bila tingkatannya rendah kita tidak dapat memperhatikannya. Banyak rasa gelisa ini ddigunakan secara tidak benar yang berarti hanya sifat-sifat individu yang menunjukkan tingkat yang sangat tinggi akan kegelisaan. Gejala-gejala kegelisaan dapat terlihat dalam dua bentuk yaitu: Khawatir dan getaran fisiologis. Rasa khawatir mengacu kepada pikiran atau kesan tentang apa yang mungkin terjadi dalam suatu event yang akan datang, sedangkan getaran fisiologis adalah bagian dari persiapan (alami dalam) badan untuk suatu perlombaan. Contoh dari getaran fisiologis termasuk meningkatnya denyut jantung, keluar peluh/keringat dan rasa ingin buang hajat (besar/kecil) pergi kekamar kecil.
Penguasaan teknik sprint adalah sangat penting untuk mencapai prestasi maksimal. Menurut Djoko P. Irianto (2002), dalam perlombaan teknik memiliki peran antara lain: (1) Sebagai cara efesien dalam mencapai prestasi, (2) Dapat mencegah atu mengurangi terjadinya cedera, (3) sebagai modal untuk melakukan taktik, (4) meningkatkan kepercayaan diri. Sukadiyanto (2005) mengatakan, teknik yang benar dari awal selain akan menghemat tenaga untuk gerak sehingga mampu bekerja lebih lama dan berhasil baik juga juga merupakan landasan dasar menuju prestasi yang lebih tinggi. Dengan teknik dasar yang tidak benar akan mempercepat proses stagnasi prestasi, sehingga pada waktu tertentu prestasi akan stagnasi (mentok), padahal semestinya dapat meraih prestasi yang lebih tinggi.
Menurut Djoko P. Irianto (2002; 80) penguasaan teknik dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain;
a. Kualitas fisik yang relevan
b. Kualitas psikologis atau kematangan bertanding
c. Metode latihan yang tepat
d. Kecerdasan atlet memilih teknik yang tepat dalam situasi tertentu.
Menurut Josef Nossek (1982), terdapat tiga tahapan dalam proses belajar teknik:
a. Pengembangan koordinasi kasar. Bentuk-bentuk gerakan kasar dapat dikarakteristikkan sebagai penguasaan teknik-teknik kasar dan terbatas yang berkenaan dengan kualitas gerakan-gerakan yang diperlukan, seperti:
1. Pengaruh kekuatan yang tidak memadai, pemborosan energi, kram otot (koordinasi otot yang rendah) dengan konsekuensi kelelahan yang cepat.
2. Unsur-unsur gerakan tunggal yang tidak digabungkan dengan lancar, karena kurangnya koordinasi.
3. Gerakan-gerakan belum cukup tepat.
4. kekurangan keharmonisan dan ritme gerakan-gerakan yang diamati.
b. Pengembangan koordinasi halus. Bentuk gerakan-gerakan halus dicapai melalui pengulangn-pengulangan lebih lanjut yang mengambangkan kualitas gerakan-gerakan. Tempo tersebut meningkat sampai pada kecepatan yang kompetitif. Bagian-bagian gerakan tungggal untuk teknik-teknik yang lebih kompleks dikembangkan secara terpisah dan dikombinasikan bersama. Aspek-aspek dalam tahap ini bercirikan:
1. Teknik-teknik dilakukan hampir tanpa kesalahan.
2. gerakan-gerakan distabilkan.
3. Gerakan-gerakan lebih berguna dan hemat, tidak ada pemborosan energi.
4. Beberapa gerakan-gerakan tidak benar yang terjadi dalam tahap pertama tidak tampak lagi.
5. Urutan gerakan-gerakan menjadi lancar dan harmonis.
6. Gerakan-gerakan tersebut tepat.
Namun demikian dalam tahap belajar ini, teknik-teknik tersebut tidak dilakukan secara otomatis. Atlet tersebut masih harus mengkonsentrasikan pada bagian-bagian yang berbeda dari gerakan-gerakan dan oleh karena itu penerapan taktis hanya dimungkinkan sebagian.
c. Tahap stabilisasi dan otomatisasi.
Tahap stabilisasi; pertama-tama hendaknya membawa atlet kedalam posisi dimana ia dapat menerapakan teknik-teknik dalam situasi kompetitif yang sulit. Atlet tersebut mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi yang sulit dan berubah-ubah dari suatu kompetisi. Penguasaan teknik yang sempurna dalam kondisi ini hanya dicapai melalui praktek dalam banyak kompetisi. Karena tingkat otomatisasi yang tinggi, para atlet dapat memberikan perhatian pada tugas-tugas taktis dalam kompetisi. Pengaruh dari kapasitas kondisioning adalah jelas tanpa rintangan dalam penampilan.
Prestasi merupakan akumulasi dari kualitas fisik, teknik, taktik dan kematangan mental atau psikis, sehingga aspek tersebut perlu dipersiapkan secara menyeluruh, sebab satu aspek dengan aspek lain akan menentukan aspek lain. Fisik merupakan pondasi bagi olahragawan, sebab teknik, taktik dan mental akan dapat dikembangkan dengan baik jika olahragawan memiliki kualitas fisik yang baik. Jadi teknik dapat dikembangkan dan dikuasai jika atlet memiliki kualitas fisik yang baik.

Sumber: http://cabang-olahraga-olahraga.blogspot.com/

KESEGARAN JASMANI UNTUK SISAWA SEKOLAH

Makalah Kesegaran Jasmani, Pengertian, Fungsi, Komponen, Alat Ukur

A.    Pengertian Kesegaran Jasmani - Mengenai definisi kesegaran jasmani ada beberapa ahli memberikan pengertian sebagai berikut :   Kesegaran jasmani merupakan kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan kesungguhan dan tnggung jawab, tanpa memiliki rasa lelah dan penuh semangat untuk menikmati penggunaan waktu luang dan menghadapi kemungkinan berbagai bahaya dimasa yang akan datang (Ichsan, 1988).

Sadoso Sumosardjuno (1989 : 9) mendefinisikan Kesegaran Jasmani adalah kemampuan seseorang untuk menunaikan tugasnya sehari-hari dengan gampang, tanpa merasa lelah yang berlebihan, serta masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk keperluan-keperluan mendadak. dengan kata lain Kesegaran jasmani dapat pula didefinisikan sebagai  kemampuan untuk menunaikan tugas dengan baik walaupun dalam keadaan sukar, dimana orang yang kesegaran jasmaninya kurang, tidak akan dapat melakukannya. Agus Mukhlolid, M.Pd (2004 : 3) menyatakan bahwa Kesegaran Jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan kerja atau aktivitas, mempertinggi daya kerja dengan tanpa mengalami kelelahan yang berarti atau berlebihan.

Sumosardjuno dan Giri Widjojo menyatakan kesegaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat-alat tubuh dalam batas fisiologi terhadap keadaan lingkungan atau kerja fisik secara efisien tanpa lelah berlebihan. Suratman (1975) kesegaran jasmani adalah suatu aspek fisik dari kesegaran menyeluruh (total fitness) yang memberi kesanggupan kepada seseorang untuk menjalankan hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan pada tiap pembebanan atau stres fisik yang layak.


B.    Fungsi Kesegaran Jasmani

Kesegaran Jasmani mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan seseorang dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kebugaran jasmani berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kerja bagi siapapun yang memilikinya sehingga dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara optimal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dari hasil seminar kebugaran jasmani nasional pertama yang dilaksanakan diJakarta pada tahun 1971 dijelaskan bahwa fungsi kebugaran jasmani adalah untuk mengembangkan kekuatan, kemampuan, dan kesanggupan daya kreasi serta daya tahan dari setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya kerja dalam pembangunan dan pertahanan bangsa dan negara.

Fungsi khusus dari kesegaran jasmani terbagi menjadi tiga golongan sebagai berikut:
•    Golongan pertama yang berdasarkan pekerjaan
Misalnya kebugaran jasmani bagi olahragawan untuk meningkatkan prestasi, kebugaran jasmani bagi karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja, dan kebugaran jasmani bagi pelajar untuk mempertinggi kemampuan belajar.
•    Golongan kedua berdasarkan keadaan
Misalnya kebugaran jasmani bagi orang-orang cacat untuk rehabilitasi, dan kebugaran jasmani bagi ibu hamil untuk mempersiapkan diri menghadapi kelahiran.
•    Golongan ketiga berdasarkan umur
Bagi anak-anak untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, dan kebugaran jasmani bagi orang tua untuk meningkatkan daya tahan tubuh ( Agus Mukholid, M.Pd, 2004 : 3).


Komponen-Komponen Kesegaran Jasmani
Komponen kesegaran jasmani terdiri dari dua kelompok yaitu : Health related fitness dan Skill related fitness (Nieman, 2004). Health related fitness merupakan kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan terdiri dari :
•    Cardyo respiratory endurance
•    Body composition
•    Musculoskletal :
o    Flexibility
o    Muscular strenghth
o    Muscular endurance

Sedangkan Skill related fitness merupakan kesegaran jasmani berhubungan dengan keterampilan terdiri dari :
•    Agality
•    Balance
•    Coordination
•    Speed
•    Power
•    Reaction time

C.    Komponen-komponen Kesegaran Jasmani
•    Kesegaran jasmani terdiri dari dua bagian, yaitu :Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan kesehatan (healtah related fitness)terdiri dari : daya tahan jantung paru (cardiorespiatory), kekuatan otot, daya tahan otot, fleksibilitas, dan komposisi tubuh.
•    Kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan (skill related) terdiri dari : kecepatan, power, keseimbangan, kelincahan, koordinasi dan kecepatan reaksi (Mutohir dan Gusril, 2004 :72)

Menurut Sadoso Sumosardjuno (1989 : 9), mengelompokkan Kesegaran jasmani dalam 4 komponen pokok diantaranya :
•    Ketahanan jantung dan peredaran darah (cardiovascular endurance)
•    Kekuatan (strength)
•    Ketahanan otot (muscular endurance)
•    Kelenturan (flexibility)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disarikan bahwa komponen-komponen pokok yang berkaitan dengan kesegaran jasmani, yaitu:
•    Kesanggupan dan kemampuan (kapasitas) seseorang dalam melakukan tugas sehari-hari.
•    Meningkatkan daya kerja terutama fungsi jantung, peredaran darah, paru dan otot.
•    Tanpa mengalami kelelahan yang berarti, yakni : adanya pemulihan kembali.
•    Masih memiliki cadangan energi 
•    Secara umum membantu peningkatan kualitas hidup seseorang.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesegaran jasmani adalah aspek-aspek kemampuan fisik yang menunjang kesuksesan seseorang dalam melakukan berbagai aktivitas dalam kehidupannya. Semakin tinggi tingkat Kesegaran jasmani seseorang, maka semakin besar pula kemungkinannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan semakin besar pula untuk menikmati kehidupan.

D.    Cara Meningkatkan Kesegaran Jasmani
Untuk peningkatan dan pemeliharaan kebugaran jasmani tidak terlepas dari latihan jasmani yang membina keseimbangan unsur kesegaran jasmani. Untuk membina atau memelihara kesegaran jasmani, salah satu caranya adalah dengan melakukan latihan fisik atau latihan jasmani. Suatu latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesegaran jasmani, harus dilakukan menurut aturan atau cara tertentu.  Hal ini berkaitan pula dengan jenis kegiatan jasmani yang terbagi dalam beberapa jenis, yaitu kegiatan yang bersifat aerobic (latihan yang membutuhkan oksigen) dan kegiatan yang bersifat anaerobic (latihan yang tidak membutuhkan oksigen), dan yang tergantung pada keterampilan.  (Sadoso Sumardjuno, 1989 : 12) menyatakan bahwa untuk meningkatkan dan mempertahankan kesegaran jasmani dengan baik, haruslah memenuhi tiga macam takaran, antara lain sebagai berikut :

a.    Intensitas latihan 
Intensitas latihan kesegaran jasmani berkisar antara 72 % - 87 % dari denyut nadi maksimal . artinya bagi seseorang yang umurnya 45 tahun, bila melakukan latihan, maka intensitas latihan yang dilakukan haruslah sampai denyut nadi mencapai paling sedikit 126 per menit (72% dari denyut nadi maksimal) dan paling tinggi 152 denyut permenit (87% dari denyut nadi maksimal).   

b.    Lamanya Latihan
Lama latihan yang baik dan tidak berbahaya harus berlatih mencapai zone latihan (traning zone) dan berada dalam zone latihan 15-25 menit.

c.     Takaran latihan   
Jika intensitas latihan lebih tinggi, maka waktu latihan dapat lebih pendek. Sebaliknya jika intensitas latihannya lebih kecil, maka waktu latihan harus lebih lama. Takaran lamanya latihan untuk olahraga kesehatan antara 20-30 menit dalam zone latihan, lebih lama lebih baik. Latihan-latihan tidak akan efisien atau kurang membuahkan hasil, kalau kurang dari takaran tersebut.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

E.    Alat Ukur Kesegaran Jasmani

Alat untuk mengukur Tingkat Kesegaran Jasmani seseorang berbeda-beda menurut jenjang sekolah, yaitu untuk Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Menangah Atas /Kejuruan.

Tes Kesegaran Jasmani yang digunakan untuk anak-anak dari usia Sekolah Dasar, Sekolah lanjutan Tingkat Pertama dan  Sekolah Menengah Atas  antara lain :
•    Tes Kesegaran Jasmani untuk siswa Sekolah Dasar (kelas 1,2 dan 3), rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 30 meter, 2). Angkat tubuh 30 detik, 3). Baring duduk 30 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari 600 meter.
•    Tes Kesegaran Jasmani untuk siswa Sekolah Dasar (kelas 4, 5 dan 6), rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 40 meter, 2). Angkat tubuh 30 detik, 3). Baring duduk 30 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari 600 meter.
•    Tes Kesegaran Jasmani untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 50 meter, 2). Angkat tubuh (30 detik untuk putri dan 60 detik untuk putra), 3). Baring duduk 60 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari jarak jauh (800 meter untuk putri dan 1000 meter untuk putra).
•    Tes Kesegaran Jasmani untuk Sekolah Menengah Atas, rangkaian butir tesnya terdiri dari : 1). Lari cepat 50 meter, 2). Angkat tubuh (30 detik untuk putri dan 60 detik untuk putra), 3). Baring duduk 60 detik, 4). Loncat tegak, 5). Lari jarak jauh (800 meter untuk putri dan 1000 meter untuk putra).(Nurhasan, 2001 :149)


F.    Jenis-jenis dan takaran pelatihan olahraga untuk menigkatkan kesegaran jasmani
Adapun beberapa macam bentuk pelatihan olahraga sebagai sarana untuk pembinaan dan pemeliharaan kesegaran jasmani, yaitu antara lain : jalan, joging, bersepeda, berenang dan bentuk-bentuk pelatihan fisik lain yang penting ada penekanan pada unsur aerobik. Sedangkan mengenai takarannya, sumosarjuno (1983) dalam Wiryosaputro (1988 : 230), mengemukakan bahwa agar pelatihan fisik dapat berjalan dengan aman dan efektif, maka dibutuhkan catatan yang harus memperhatikan 3 faktor yaitu :

a.    Intensitas pelatihan
Intensitas pelatihan fisik yang dianjurkan dalam rangka meningkatkan kesegaran jasmani sebaiknya antara 60% dan 80% dari kapasitas aerobic maksimal, atau antara 72%/87% dari denyut nadi yang dianjurkan akan berdampak kurang baik terhadap kesehatan.

b.    Lamanya pelatihan
Sebaiknya pelatihan fisik yang dianjurkan adalah berlatih sampai mencapai “training zone” (sesuai dengan denyut nadi maksimal), dan berada dalam training zone selama 15-25 menit.
c.    Frekuensi latihan
Dianjurkan untuk melakukan pelatihan fisik dengan frekuensi pelatihan 3-5 kali setiap minggu yang berhubungan erat dengan intensitas dan lamanya pelatihan.
Berkaitan dengan takaran pelatihan seperti tersebut diatas Giam dan Teh (1992:17), menyatakan bahwa bagi mereka yang cukup sehat dan memiliki kebugaran yang baik, sesuai petunjuk resep FITT dapat memberikan manfaat maksimal terhadap tingkat kebugaran.
Adapun anjuran tersebut adalah sebagai berikut :
•    Frekuensi adalah 3-5 kali setiap minggu
•    Intensitas adalah kurang lebih 60-85% dari denyut nadi maksimal.
•    Tipe (macam pelatihan) adalah suatu macam kombinasi pelatihan aerobik dan aktifitas kalestenik (senam). Pilihan aktifitas tersebut berdasarkan selera, keadaan dan kebugaran tersedianya fasilitas yang digunakan.
•    Time (waktu pelatihan) adalah 15-20 menit pelatihan yang bersifat aerobik yaang dilakukan terus-menerus dan didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri dengan pendinginan selama 5-10 menit.

TES KEBUGARAN JASMANI UNTUK SISWA SD,SMP,SMA

TES KEBUGARAN JASMANI UNTUK SISWA SD,SMP,SMA

Pendidikan Jasmani merupakan salah satu bagian dari olahraga pendidikan,hal ini sesuai dengan UU No 3 tahun 2005 tentang SKN yang menjelaskan bahwa ruang lingkup olahraga dibagi dalam tiga bagian yaitu salah satunya adalah Olahraga Pendidikan.
Pengertian serta tujuan olahraga pendidikan tentu berbeda dengan pengertian dan tujuan olahraga rekreasi ataupun olahraga prestasi. Pengertian olahraga pendidikan menurut UU No 3 tahun 2005 tentang SKN menyatakan bahwa “olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani”. Sebelumnya  olahraga pendidikan menurut Moeslim (1970: 2) Menjelaskan bahwa “Olahraga pendidikan adalah segala kegiatan/usaha yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk mendorong, membangkitkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah bagi setiap anak didik”.
    Dari kedua pengertian di atas,dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya olahraga pendidikan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mendidik,mengembangkan,dan meningkatkan kepribadian,keterampilan, kesehatan serta kebugaran jasmani siswa-siswi di sekolah. Salah satu tujuan terpenting adalah mendidik, mengembangkan  dan meningkatkan kebugaran jasmani siswa,yaitu dengan melakukan olah fisik pada siswa yang tidak terlepas dari pedoman pendidikan jasmani di sekolah.Untuk dapat meningkatkan kebugaran jasmani pada siswa, diperlukan pembelajaran yang sesuai dan mengarah pada peningkatan kebugaran jasmani itu sendiri, baik itu permainan ataupun pendidikan fisik.
Pemantauan pada siswa harus terus dilakukan supaya dapat terlihat perkembangannya baik dari segi kesehatan ataupun kebugaran jasmaninya.Untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani pada siswa, diperlukan alat dan norma penilaian berupa tes-tes yang diberikan pada siswa.
Di Indonesia sendiri, tes-tes kebugaran jasmani untuk tingkat SD sampai SMA itu pada dasarnya hampir sama hanya saja ada beberapa komponen yang dibedakan. Maka dari itu, penulis akan mencoba untuk menguraikan jenis-jenis tes kebugaran jasmani yang harus diberikan pada siswa mulai dari tingakat sekolah dasar, sampai tingkat menengah atas.

1.    Tes Kebugaran Jasmani Untuk Sekolah Dasar
1.1 Tes Kesegaran Jasmani  untuk Sekolah Dasar kelas 1,2 dan 3
Butir-butir tesnya, yaitu :
a.    Lari cepat 30 meter
b.    Angkat tubuh (pull-up) 30 detik
c.    Baring duduk (sit-up)  30 detik
d.    Loncat tegak (Vertical jump)
e.    Lari 600 meter

1.2 Tes Kesegaran Jasmani untuk Sekolah Dasar kelas 4,5 dan 6
a.    Lari cepat 40 meter
b.    Angkat tubuh (pull-up) 30 detik
c.    Baring duduk (sit-up) 30 detik
d.    Loncat tegak (vertical jump)
e.    Lari 600 meter

2.    Tes Kebugaran Jasmani untuk Sekolah Menengah Pertama
Butir-butir  tesnya adalah :
a.    Lari cepat 50 meter
b.    Angkat tubuh (pull-up) ( 30 detik untuk puteri, 60 detik untuk putra)
c.    Baring duduk (sit-up) 60 detik
d.    Loncat tegak (vertical jump)
e.    Lari 800 meter untuk putrid dan 1000 meter untuk putra
3.    Tes Kebugaran Jasmani untuk tingkat Sekolah Menengah Atas
Butir-butir tesnya, terdiri dari :
a.    Lari cepat 60 meter
b.    Angkat tubuh (pull-up) ( 30 detik untuk puteri, 60 detik untuk putra)
c.    Baring duduk (sit-up) 60 detik
d.    Loncat tegak (vertical jump)
e.    Lari  800 meter untuk putri dan 1000 meter untuk putra

Tes kebugaran jasmani diatas penulis kutip dari bukunya Nurhasan,dkk (2007)  yang berjudul Tes Dan Pengukuran Keolahragaan. Untuk lebih lengkapnya mengenai cara pelaksanaan tes dan norma-norma tesnya akan penulis kemukakan pada bagian selanjutnya

TUGAS SARANA DAN PRASARANA OLAHRAGA



MAKALAH
SARANAN DAN PRASARANA OLAHRAGA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas sarana dan prasarana olahraga








Disusun Oleh :
WAWAN SETIAWAN
2124100248

FAKULTAS  KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PJKR
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2011


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………        i
DAFTAR ISI………………………………………………………………...        ii
BAB I PENDAHULUAN
            1.1 Latar Belakang……………………………………………………       1
            1.2 Tujuan ……………………………………..                                         1
BAB II PEMBAHASAN
            2.1 Sarana sekolah……………………………….
            2.2 Sarana Prasarana sekolah                                                                         
BAB III PENUTUP
            3.1 Kesimpulan……………………………………………………….      
            3.2 Saran………………………………………………………………     









BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat:

(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
(b) belajar untuk memahami dan menghayati,
(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan
(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana.Standar sarana dan prasarana ini untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu: Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Standar sarana dan prasarana ini mencakup:
1. kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah,
2. kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang, dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah.

PENGERTIAN
1. Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah.
2. Prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.
3. Perabot adalah sarana pengisi ruang.
4. Peralatan pendidikan adalah sarana yang secara langsung digunakan untuk pembelajaran.
5. Media pendidikan adalah peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.
6. Lahan adalah bidang permukaan tanah yang di atasnya terdapat prasarana sekolah/madrasah meliputi bangunan, lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan.
7. Ruang kelas adalah ruang untuk pembelajaran teori dan praktik yang tidak memerlukan peralatan khusus.
8. Ruang guru adalah ruang untuk guru bekerja di luar kelas, beristirahat, dan menerima tamu.
9. Ruang UKS adalah ruang untuk menangani peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan dini dan ringan di sekolah/madrasah.
10. Gudang adalah ruang untuk menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, peralatan sekolah/madrasah yang tidak/belum berfungsi, dan arsip sekolah/madrasah.
11. Tempat berolahraga adalah ruang terbuka atau tertutup yang dilengkapi dengan sarana untuk melakukan pendidikan jasmani dan olah raga.
12. Tempat bermain adalah ruang terbuka atau tertutup untuk peserta didik dapat melakukan kegiatan bebas.
1.2 Tujuan
            Dalam proses pembuatan makalah ini ,khususnya pada mata kuliah sarana prasarana   
   memiliki tujuan yang sangat jelas:
·         Memenuhi salah satu mata kuliah sarana prasarana
·         Mengetahui sejauh mana sarana dan prasarana dari tiap sekolah dalam berbagai tingkatan (SD,SMP,dan SMA)
·         Dapat memodifikasi sarana dan prasarana yang kurang memadai sehingga tujuan pembelajaran bisa tetap tercapai


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 PRASANA SEKOLAH

Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. ruang guru,
5. tempat beribadah,
6. ruang UKS
7. gudang,
8. ruang sirkulasi,
9. tempat bermain/berolahraga.
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. ruang laboratorium IPA,
4. ruang pimpinan,
5. ruang guru,
6. ruang tata usaha,
7. tempat beribadah,
8. ruang konseling,
9. ruang UKS,
10. ruang organisasi kesiswaan,
11. jamban,
12. gudang,
13. ruang sirkulasi,
14. tempat bermain/berolahraga.
Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. ruang laboratorium biologi,
4. ruang laboratorium fisika,
5. ruang laboratorium kimia,
6. ruang laboratorium komputer,
7. ruang laboratorium bahasa,
8. ruang pimpinan,
9. ruang guru,
10. ruang tata usaha,
11. tempat beribadah,
12. ruang konseling,
13. ruang UKS,
14. gudang,
15. tempat bermain/berolahraga

2.2 SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH
§  Tingkat SD (SD Buniseuri 1)
Sarana dan prasarana yang terdapat di SDN 1 Buniseuri antara lain:
1.      Permaian bola besar:
ü  Permainan bola voli(bola 4 buah)kumplit
ü  Permainan bola sepak (bola 2 buah )kumplit
2.      Permainan bola kecil:
ü  Bola kasti (bola 2)kumplit
ü  Tenis meja 1 set  kumplit
3.      Atletik:
ü  Bak pasir(tempat lompat jauh 1)
ü  Matras (2 buah )
ü  Loncat tinggi
ü  Tolak peluru (3 buah )
ü  Hullahup(2)
ü  Peralatan estapet (kumplit)
4.      Tape 1
5.      Pluit 2
6.      Stopwatch 1
7.      Tenaga pengajar 2

§  Tingkat MTS (MTS Gerba Cipaku)
1.      Permainan bola besar
ü  Bola voli 2
ü  Bola basket  4
ü  Bola sepak 1
ü  Ring basket 1
2.      Permainan bola kecil :
ü  Sepak takraw 3 buah
ü  Tenis meja 1 set
ü  Bulutangkis 1 set
3.      Peralatan atletik
ü  Tolak peluru 2 buah
ü  Lempar lembing  8 buah
ü  Lari gawang 1 set
ü  Bak pasir 1 set
ü  Alat loncat tinggi 1 set
4.      Pluit 2 buah
5.      Stopwatch  1
6.      Tape 1
7.      Matras 1
8.      Tenaga pengajar 2
§   Tingkat SMA(SMA N 1  Panawangan )
1.      Permainan bola besar:
ü  Permainan bola voli (bola 7 buah )kumplit
ü  Permaina bola sepak (bola 4 buah)kumplit
ü  Permainan bola basket(bola 7 buah )kumplit
2.      Permainan bola kecil:
ü  Sepak takraw  15 buah
ü  Tenis meja 2 set,bet 4 pasang
3.      Peralatan atletik :
ü  Tolak peluru 5 buah
ü  Lempar  lembing 8
ü  Lompat jauh 1
ü  Peralatan estapet kumplit
ü  Papan tolakan 4
4.      Stopwatch 4 buah
5.      Puit 4 buah
6.      Tenaga pengajar 2
7.      Matras 4
                                                                    BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dengan memiliki sarana dan prasarana yang memadai khususnya saran adalam bidang pendidikan baik tingkat SD,SMP dan SMA sederajat maka akan mempercepat dan memperlancar target perencanaan pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Selain itu dengan sarana dan prasarana yang memadai dapat mengembangkan potensi anak secara optimal untuk mencapai prestasi setinggi-tingginya.
3.2  Saran
Dengan pembuatan makalah sarana dan prasarana ini diharapkan mampu bermanfaat untuk:
·         dapat menjadi dorongan  dan motivasi vasi sekolah atau lembaga yang belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
·         Diharapkan pemerintah lebih memperhatikan sarana dan prasarana disetiap bidang,terutama dalam bidang pendidikan











KATA PENGANTAR

  Bismillahirohmanirrohim.
           Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat –
Nya, penulis dapat menyelesaikan Makalah  ini dengan baik.     
Makalah ini berjudul: tugas ini disusun untuk memenuhi
salah satu mata kuliah  sarana prasarana.
             Dalam pembuatan dan penyusunan Makalah ini penulis bekerja dengan kemampuan yang terbatas, oleh karena itu selesainya Makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagaipihak baik berupa nasehat maupun saran-saran bagi penulis. Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan,maka diharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun.
              Mudah-mudahan bantuan dan dorongan serta bimbingan semua pihak kepada kami dapat diterima oleh Allah SWT serta mendapat balasan yang setimpal dengan amal kebaikannya. Amiiin………….




                                                                                                      Ciamis, 21 April 2011

                                                                                                    Penulis